Karya

Bukan Korupsi (Part 2): Retaknya Sebuah Kepercayaan

Penulis: School Sharing For The Blind
Diterbitkan: 1 November 2026
Diperbarui: 1 November 2026
6 menit baca
9 tayangan

BUKAN KORUPSI
Bagian 2: Retaknya Sebuah Kepercayaan


Malam kemenangan di panggung Cafe School Sharing menyisakan binar kebahagiaan yang masih membekas di hati anak-anak Band Suara Senyap. Di tangan Nayla, amplop honor pertama mereka tersimpan rapat sebagai kas bersama—sebuah amanah yang ia jaga dengan segenap jiwa. Demi merayakan malam bersejarah itu, mereka memutuskan untuk menginap bersama di rumah Reyzi.

Taksi online tiba di rumah Reyzi malam itu. Mereka menginap di sana. Kenzi, yang sepertinya sedang mendapatkan kemalangan di hari itu, baru saja turun dari mobil, sudah menginjak kulit pisang di pekarangan dan sukses tiarap di atas tanah basah.

"Aduh! Kesandung!" jerit Kenzi.

Andy langsung tertawa sampai batuk-batuk. "Yaampun! Kok bisa-bisanya kamu mandi tanah liat malam-malam, Ken?"

Pintu dibuka oleh Ciya, adik Reyzi. "Hallooo Kakak Resing!"

Vira menahan tawa. "Hahaha Kakak Resing, resing apaan! Resing mobil?"

Nayla mendekati Ciya. "H-halo... a-dik... n-ama... k-amu... s-iapa?"

Ciya bingung, menatap Zya. "Kak, dia bilang apa?"

"Dia bilang 'Hallo adik cantik, namanya siapa'. Kakak Nayla ini susah ngomong Dek," jelas Zya.

"Oh iya, hallo Kakak cantik!" panggil Ciya polos.

Bude Yumi keluar, terkejut melihat Kenzi. "Loh Kenzi, kamu kenapa, kok jadi mandi tanah gini?"

"Tadi dia jatuh Bude, kepleset kulit pisang hahaha," adu Vira.

Di ruang tamu, Bude Yumi membawakan nampan minuman. "Nah ini ya anak-anak, tadi yang mau kopi, teh manis, es teh, ayok diminum."

Reyzi melirik gelas Nayla. "Nay, kok kamu suka minum es teh tawar kenapa sih? Emang enak?"

Nayla membetulkan posisi duduk, lalu bicara perlahan menjelaskan alasan ia menyukai es teh tawar:

“E-enak... k-arena... a-ku... n-ikmati. K-alau... g-ak dinikmati... p-pahit!”

— “Oalah, ya itu bener. Itu namanya menggambarkan hidup, bahwa tidak selamanya hidup terasa manis kalau kamu tidak menikmati hal itu,” puji Bude Yumi hangat.

Di sudut ruangan, Ciya mendekati Nayla membawa kotak makeup mainan. "Kakak kenapa enggak bisa ngomong?"

Nayla berusaha menjelaskan, "I-iya... k-akak... s-akit..."

"Oh sakit ya, Kak? Tapi Kakak cantik, ajarin aku makeup dong Kak," minta Ciya.

Nayla mengangguk, "B-oleh... s-ini..." Diraihnya kertas dan pulpen untuk menuliskan petunjuknya, huruf demi huruf. Dari situlah suaranya paling jelas keluar selama ini.


Pagi harinya, suasana rumah Bude Yumi dan pakde Uzo riuh luar biasa. Andy dan Vira tertawa geli mendengar keriuhan itu dari teras, saling ledek soal Reyzi yang kehilangan singletnya sendiri.

Keluarga itu adalah keluarga bahagia. Nayla iri melihatnya. Tapi bukankah mereka juga menganggapnya keluarga?

Tak lama, Kenzi meraba-raba meja sambil memegangi sebuah buku pelajaran. "Nay, Nay... Nayla, tolongin aku."

Nayla mendekat panik, menepuk bahu Kenzi pelan. "A-apa... K-enzi? T-olong... a-pa?"

"Ini lhoo, aku tadi pengen baca buku, tapi bukunya tulisan awas. Jadi aku enggak ngerti, Be My AI aku lagi enggak bisa dipakai. Bisa enggak kamu bantu tulisin huruf-huruf di buku ini jadi huruf Braille?" minta Kenzi sambil menyodorkan kertas Braille.

Nayla mengangguk cepat. "B-oleh... m-ana... k-ertasnya..."

Jemarinya bergerak tekun menembus kertas, titik demi titik. Selesai membantu, Kenzi tersenyum lebar. "Wih makasih ya Nay."

"S-ama... s-ama..." balas Nayla.

Bude Yumi memanggilnya dari dapur. "Nay, sini bentar. Tolongin Bude beliin garam sama margarin di minimarket depan, ini uangnya. Berani kan?"

Nayla mengangguk mantap. "O-oke... b-erani!"

Ia berjalan pelan menyusuri trotoar, senyum bahagia merekah menghiasi wajahnya. Ia senang sekali dipercaya dan diminta tolong oleh Bude Yumi.

“Apakah begini rasanya disuruh oleh ibu sendiri?”

Di perjalanan pulang dari minimarket, Yivi menyapa. Dia teman baik Nayla, yang lama tak terdengar kabarnya.

"Nayla!"

Nayla menoleh. "Y-ivi... N-gapain... k-amu... d-isini?"

"Aku kerja di sini, kamu apa kabar?" tanya Yivi.

"A-aku... b-aik," jawab Nayla terbata.

Mereka sempat mengobrol beberapa jenak. Mata Nayla berbinar. Baginya, semua sudah cukup. Ia amat bahagia. Bertemu sahabat-sahabat yang menganggapnya keluarga sendiri, bertemu teman lama yang tak terdengar kabarnya. Terima kasih, Tuhan, bisiknya dalam hati.


Kehangatan itu tidak bertahan lama. Siang itu datang membawa kabar yang mengubah segalanya dalam hitungan menit.

Mereka berkumpul di ruang tamu. Nayla meletakkan uang sisa di atas meja, tangannya sedikit gemetar tanpa disadarinya sendiri.

Vira menghitung lembar demi lembar, dahinya berkerut. "Lho... kok sisanya tinggal setengah?"

"Lho kok tinggal segini Nay? Kita kan enggak banyak pakai," Andy ikut kaget.

"Iya, seharusnya enggak segini," Reyzi menatap curiga.

"Iya, perasaan setiap kita selesai perform pasti duitnya tinggal setengah," timpal Zya.

Kenzi menuding tanpa ragu, "Oh aku tahu! Pasti kamu kan yang korupsi, Nay!"

"Iya bener, pasti kamu! Kalau enggak kamu siapa lagi!" sergah Vira. "Selama ini juga dia yang selalu pegang uang."

Nayla panik. Kenapa jadi begini? "N-nggak... b-ukan... g-itu..."

Tidak ada yang menunggu kelanjutan kalimatnya.

"Alah enggak usah ngeles lagi kamu! Ngaku aja!" bentak Reyzi.

"Nay, aku baru tahu. Ternyata kamu tukang korupsi!" Andy menatap dingin.

"Dasar koruptor! Mau menang sendiri!" seru Zya.

"Cih! Enggak ada bedanya kamu sama sampah di luar sana!" cemooh Kenzi.

Nayla berusaha keras merangkai kata, "N-nggak... b-ukan... i-tu... m-aksudku..."

Bukan aku, jerit batinnya, lengkap dan jelas, seandainya saja mulutnya bisa secepat itu. Tapi yang keluar hanyalah suku kata yang terputus, dan wajah-wajah di depannya sudah terlanjur percaya pada kesimpulan mereka sendiri.

"Alah enggak usah alasan lagi deh, kita semua udah tahu!" potong Reyzi.

Nayla, yang kehabisan kata-kata, mengangkat tangan. Dipukulnya telapak tangannya sendiri tiga kali, gemetar. Prok! Prok! Prok! Sedih. "M-aaf... m-aafin... a-ku..."

"Alah Nay, enggak usah sok sedih deh! Mulai sekarang kamu bukan sahabat kita lagi!" bentak Zya tega.

"Lebih baik kamu pergi dari sini! Dan enggak usah balik lagi!" usirnya.

Cukup lama Nayla bicara menggunakan tepukan tangan, dan baru sekarang ia sadar ada satu hal yang tidak pernah dipikirkannya: bahasa itu cuma berguna kalau ada yang mau mendengarkan. Sekarang tidak ada.

Nayla menangis terisak-isak, meraih tasnya. Mereka mengusirnya kasar. Ia keluar sambil menangis, memukulkan tangan tiga kali di depan pintu yang dibanting kasar dari dalam. Tepukan terakhir itu tenggelam begitu saja. Tak ada yang mau lagi mendengarnya.

Pintu kayu itu dibanting keras dari dalam tepat di depan wajahnya: Brak! Suara grendel besi yang terkunci berbunyi dingin, memutus sisa kehangatan yang baru beberapa jam lalu ia rasakan. Nayla tersungkur di lantai teras yang dingin, dadanya sesak oleh tangis yang tak bersuara.

Dengan tangan yang bergetar hebat, Nayla kembali mengangkat kedua telapak tangannya ke arah pintu yang terkunci rapat. Ia memukulkannya tiga kali: prok... prok... prok... Suara kepedihan itu bergaung hampa, lalu tenggelam ditelan dinginnya angin siang. Tak ada pintu yang terbuka kembali. Tak ada lagi telinga yang sudi mendengarkan. Bahasa cinta yang dulu mereka ciptakan bersama, siang itu telah mati dibunuh oleh prasangka.

Sambil memeluk tasnya erat-erat, Nayla terpaksa bangkit dengan langkah tertatih. Air matanya mengaburkan jalanan yang sunyi. Tanpa ada tempat lain untuk berpaling, hanya ada satu tempat yang bisa ia tuju: rumahnya sendiri. Sebuah rumah yang sejatinya adalah neraka, tempat orang-orang berdarah dingin telah menunggu untuk menyambutnya dengan siksaan yang jauh lebih kejam...

Bersambung ke Bagian 3 — Tamat