Saat Lukisan Kucing di Kelas School Sharing Malah Disebut Mirip Ayam
Belajar melukis di School Sharing for the Blind jelas berbeda dengan kelas melukis biasa yang mengandalkan kuas, cat, dan kanvas kosong. Karena para pesertanya adalah teman-teman netra yang sehari-hari mengoperasikan HP atau laptop dengan bantuan pembaca layar, kelas seni yang dipandu Kak Rahma mengambil jalur lain: melukis lewat kata-kata menggunakan AI.
Gagasan ini berangkat dari materi tentang bentuk dan visual yang dibahas Kak Rahma di awal kelas. Ia menjelaskan bahwa wujud manusia, hewan, ataupun lukisan semuanya memiliki bentuk, dan visual dipakai orang untuk mengekspresikan sesuatu. Bagi peserta tunanetra, belajar soal bentuk dan ruang visual ini tidak berhenti pada obrolan konsep saja.
Di kelas Kak Rahma, peserta diajak langsung praktek membuat karya, dan setiap kelas punya gebrakan proyeknya masing-masing. Kali ini, gebrakannya adalah membuat lukisan digital lewat kalimat perintah atau prompt AI. Dengan menuliskan deskripsi sedetail mungkin, peserta berlatih menerjemahkan bayangan mereka tentang wujud, warna, ukuran, dan posisi suatu objek menjadi gambar visual sungguhan. Seberapa pas hasil lukisannya nanti sekaligus menjadi gambaran seberapa jauh pemahaman dan imajinasi mereka mengenai bentuk benda tersebut.
Begitu pengantar soal bentuk dan visual selesai, Kak Rahma mengajak peserta yang hadir hari itu. Samudra, Keyla, dan Kak Fian, memilih aplikasi AI yang akan dipakai bersama. Awalnya Kak Rahma menawarkan beberapa pilihan seperti Gemini, ChatGPT, atau Meta AI.
Samudra memilih Gemini karena di ChatGPT ia belum bisa mengambil hasil gambarnya ke perangkat. Sementara Keyla mengaku belum pernah memakai Gemini sama sekali. Waktu ditanya sehari-hari memakai aplikasi apa, Keyla sambil tertawa kecil menjawab kalau dirinya biasa memakai Qwen, jawaban yang langsung disambut celetukan peserta lain karena aplikasi itu jarang terdengar dan sulit terbaca di perangkat mereka.
Berhubung Keyla sudah punya ChatGPT di HP-nya, Kak Rahma akhirnya membagi peserta menjadi dua kubu: Samudra dan Kak Rahma memakai Gemini, sedangkan Kak Fian dan Keyla memakai ChatGPT. Pembagian ini sekalian dilakukan untuk membandingkan aplikasi mana yang menghasilkan gambar lebih bagus.
Sebelum mulai mengetik, Kak Rahma menjelaskan aturan dasar menyusun prompt untuk melukis. Pertama, peserta harus menulis kalimat perintah yang jelas bahwa mereka ingin dibuatkan lukisan, lengkap dengan posisi kanvasnya: memanjang ke samping (landscape) atau berdiri (potret). Setelah itu, barulah mereka merinci objeknya. Kalau melukis manusia, misalnya, mereka harus menentukan bentuk hidung dan mulutnya, serta memilih tampilan dua dimensi atau tiga dimensi.
Untuk latihan kali ini, mereka sepakat memilih untuk melukis hewan dan mengerucutkannya menjadi lukisan kucing. Kak Rahma meminta mereka merinci ciri fisik kucing tersebut selengkap mungkin di dalam prompt. Warna bulunya apa, badannya gemuk atau tidak, ekspresinya lucu atau tidak, bentuk kumis dan ekornya bagaimana, hingga posisinya sedang duduk atau berdiri. Latar belakangnya juga diminta diatur, seperti menambahkan taman di belakang kucing, memberi bingkai, atau meminta tekstur lukisan yang agak kasar.
Soal posisi kanvas, mereka sempat berembuk singkat antara landscape atau potret.
"Potret aja lah, kan mau kita posting ke TikTok," kata Kak Rahma memutuskan.
Begitu semua sepakat, latihan itu langsung dijadikan lomba adu cepat mengetik prompt.
Kucing yang Hilang Diganti Foto Sendiri
Suasana kelas sempat hening dari obrolan, menyisakan bunyi pembaca layar dari gawai masing-masing.
Kak Rahma selesai mengetik prompt paling awal. Namun ketika gambarnya jadi, ia malah bingung sendiri karena ukuran potret yang ia minta keluar dalam posisi miring ke samping. Setelah diyakinkan oleh Keyla dan Kak Fian bahwa ukuran potret seharusnya berdiri dan yang miring itu landscape, Kak Rahma tertawa menyadari Gemini miliknya memberikan posisi yang terbalik. Belum lagi mata kucing di lukisannya tampak sangat besar.
Sambil menunggu peserta lain merampungkan prompt, Kak Rahma memberi satu syarat tambahan: mereka harus memasukkan foto diri masing-masing beserta tulisan nama ke dalam lukisan, supaya nanti terlihat jelas siapa pemilik karyanya.
Syarat tambahan ini langsung membuat peserta kelabakan mengubek-ubek isi galeri. Kak Fian mengeluh tidak punya stok foto diri di perangkatnya dan sempat bertanya apakah boleh memakai tangkapan layar saja, sebelum akhirnya memilih satu foto seadanya yang ia sendiri tidak yakin foto apa. Keyla juga mengaku tidak punya foto diri di HP, sampai digoda oleh Kak Rahma yang merasa punya koleksi foto Keyla lebih banyak daripada pemiliknya sendiri.
Urusan teknisnya ternyata jauh lebih rumit. Menyuruh AI menggabungkan lukisan kucing dengan foto manusia tidak semudah itu. Percobaan pertama Kak Rahma ditolak oleh AI karena ia menulis perintah penambahan foto tanpa melampirkan file fotonya. Begitu fotonya benar-benar diunggah, hasil yang muncul malah bikin satu kelas tertawa.
"Loh, kucingnya hilang, malah diganti foto Kakak!" seru Kak Rahma.
Foto dirinya sama sekali tidak ditaruh di samping lukisan kucing. AI tersebut justru menghapus gambar kucingnya dan menyulap foto Kak Rahma menjadi lukisan. Saat dicoba lagi dengan kalimat perintah berbeda, gambarnya berubah menjadi foto Kak Rahma sedang menggendong kucing, lalu di percobaan berikutnya hasilnya makin melenceng.
"Awalnya Kakak kira bisa, malah Kakak jadi muka kucing! Mirip Kakak kucingnya," lanjutnya sambil tertawa geli.
Di tempat lain, Kak Fian juga gagal berkali-kali karena AI terus membalas dengan penolakan berbahasa Inggris. Setelah saran untuk menyimpan lukisan dan mengunggahnya ulang bersama foto tetap tidak berhasil, Kak Rahma memutuskan membatalkan syarat foto diri. Cukup tuliskan nama masing-masing di dalam lukisan.
Bagi Kak Rahma, proses salah-salah seperti ini justru bagian yang paling seru saat mencoba membuat karya. Namun karena para peserta tidak bisa melihat langsung kejanggalan visual pada gambar yang baru keluar dari AI, mereka tidak boleh asal mengirimkan hasil pertama ke grup. Kak Rahma mewajibkan mereka memeriksa hasil lukisannya terlebih dahulu memakai aplikasi pendeskripsi gambar Be My Eyes. Seperti kata Keyla sambil tertawa, kalau tidak diperiksa dulu lewat aplikasi itu, mereka tidak bakal tahu kalau kucing di dalam gambarnya tiba-tiba hilang.
Berbagai Macam Jenis Kucing
Sambil menunggu peserta merapikan hasil akhir, Kak Rahma kembali mengingatkan alasan mereka langsung terjun praktek hari itu.
"Kalau seni sama Kak Rahma bikin karya, karya, karya, karya aja. Nggak ada teori, praktek aja langsung," ujarnya.
Satu per satu lukisan mulai masuk ke grup WhatsApp kelas. Karya Samudra menjadi gambar pertama yang dibuka Kak Rahma, dan seketika itu juga tawanya pecah.
"Ini kucing apa Sam? Warnanya merah putih!" kata Kak Rahma.
"Wih, kita merdeka dulu, Kak. Merdekaa!" balas Samudra santai.
Bentuk kucing dari prompt Samudra memang cukup nyeleneh. Di mata Kak Rahma, proporsi badan kucing itu malah mirip ayam, dengan ekor yang kelewat besar dan telinga mencolok. Ukuran kanvasnya pun masih memanjang ke samping seperti tampilan video YouTube, padahal Samudra merasa sudah mengetik perintah potret. Waktu ia memeriksa gambar itu lewat Be My Eyes sebelumnya, deskripsi yang dibacakan aplikasi tersebut terdengar aman-aman saja dan namanya sudah tertera di sana.
Giliran lukisan Kak Fian dibuka, tawa kembali pecah gara-gara ekspresi dan bulu kucingnya.
"Punya Kak Fian kucingnya mangap mulutnya! Gemuk banget kucingnya," komentar Kak Rahma.
Kak Fian hanya tertawa dan menyebut ekspresi mangap itu murni kreasi dari AI-nya sendiri. Selain berbadan gemuk, bulu kucing itu tampak sangat tebal dan panjang-panjang seperti belum disisir, sementara salah satu tangannya terangkat seolah sedang bergaya. Kak Fian menamainya kucing modern. Tulisan namanya sendiri sempat dikira belum masuk, sebelum akhirnya ditemukan terselip sangat kecil di pojok bawah lukisan.
Sementara itu, Keyla sempat tertahan cukup lama di ChatGPT. Sebelum gambarnya keluar, aplikasi itu sempat memunculkan dua pilihan gambar yang harus dilewati dulu. Begitu gambarnya jadi, pembaca layar di HP Keyla tidak menemukan tombol simpan dan hanya membaca tombol bagikan. Akhirnya Keyla mengirimkan tautan obrolan ChatGPT tersebut ke grup WhatsApp supaya gambarnya bisa diunduhkan oleh Kak Rahma.
Secara warna, lukisan milik Keyla dipuji bagus oleh Kak Rahma. Hanya saja, sorot mata kucingnya terlihat sangat galak.
"Si kucingnya Keyla emosi! Kayak, 'Apa kau? Apa kau?'" kata Kak Rahma menirukan tampang kucing tersebut.
Menjelang akhir sesi, Samudra yang tadi diminta memperbaiki ukuran kanvasnya dengan kata kunci "ukuran TikTok" mengirimkan lukisan baru ke grup. Ia berharap kali ini Gemini tidak membuat gambar yang aneh-aneh lagi. Namun begitu dibuka, Kak Rahma kembali tertawa dan memintanya mengecek ulang lewat Be My Eyes karena gambarnya masih aneh. Saat Samudra memeriksanya lagi, aplikasi tersebut menyebutkan kalau gambarnya masih dengan kucing berwarna merah putih. Kak Rahma pun tertawa dan meloloskan gambar itu karena tulisan nama Samudra sudah terpampang di sana.
Dari satu kesepakatan menggambar kucing hari itu, ruang obrolan grup WhatsApp kelas akhirnya terisi tiga lukisan yang sama sekali berbeda rupa. Ada kucing merah putih berbadan mirip ayam milik Samudra, kucing gemuk berbulu gondrong yang sedang mangap buatan Kak Fian, serta kucing bertampang galak dengan perpaduan warna yang apik dari Keyla.
Hasil akhirnya memang jauh dari bayangan lukisan kucing yang seragam. Sepanjang kelas, ada saja kejutan kecil dari kanvas yang terbalik, wajah yang berubah jadi kucing, sampai deskripsi pembaca visual yang kadang luput menangkap keanehan bentuk gambarnya. Namun sesuai keinginan Kak Rahma sejak awal pertemuan, kelas hari itu tidak selesai dengan catatan teori. Masing-masing peserta menutup sesi dengan satu karya lukis utuh yang memuat nama mereka di sudut gambar, siap dipajang di situs web komunitas dan dikenalkan sebagai karya mereka.
Hasil Lukisan Kelas School Sharing
Berikut empat karya lukisan kucing yang dibuat menggunakan prompt AI dalam sesi pembelajaran: