BUKAN KORUPSI
Bagian 1: Bahasa Tepukan dan Panggung Impian
Ruangan itu terasa hangat, ada aroma kopi yang baru diseduh dan tanaman kecil berdaun hijau di sudut meja. Reyzi duduk paling depan dengan kursi rodanya, diapit Andy dan Vira, sementara Kenzi dan Zya duduk berdampingan di baris belakang, tangan mereka saling bertaut. Di seberang meja, seorang perempuan muda tersenyum tipis menyambut mereka. Usianya belum terlalu jauh dari mereka, wajahnya masih segar, tapi caranya duduk dan menyusun map di meja terlihat rapi dan meyakinkan.
"Duduk yang nyaman, tidak usah tegang," sambutnya ramah, menuangkan air putih ke lima gelas kecil di depan mereka. "Coba ceritakan semuanya dari awal, sejelas mungkin. Jangan ada yang dilewatkan, sekecil apa pun itu. Saya akan dengarkan."
Petir menyambar tepat ketika Nayla memukul snare drum untuk ketiga kalinya sore itu, seolah langit ingin ikut ambil bagian dalam latihan mereka. Hujan deras membasahi atap genting studio sewaan, menutupi sisa petikan gitar Vira. Di pojok ruangan, suara drum Nayla kalah oleh gemuruh yang lebih keras dari apa pun yang bisa mereka mainkan malam itu.
Andy mengelus tongkat kayunya yang tersandar di dinding. "Yah hujan, mana deras banget lagi."
"Iya bener banget, jadi susah dengarnya. Mana cuma setengah jam lagi nyewa studionya," sahut Vira.
Reyzi menggeser roda kursinya, mendekat ke stand microphone. "Kapan yaa, kita punya studio band kita sendiri?"
Tidak ada yang menjawab.
Pintu berderit terbuka. Pak Ryo, pemilik studio, berteriak dari luar ruangan, "Dek, waktu tinggal setengah jam lagi ya!"
"Iya, Pak! Sebentar lagi!" sahut Kenzi.
Nayla mengacungkan tangan dari balik drum, memajukan badannya. "K-kita... c-coba... t-terus..." katanya terbata-bata, tersendat di tiap suku kata.
"Nayla, stop!" potong Zya lembut. Ia memiringkan kepala, kasihan mendengar napas Nayla yang terengah karena memaksakan diri.
"Aduh Nay, kayaknya kamu kesusahan, ya. Gimana biar kamu lebih mudah, kita berbicara dengan tepukan tangan. Biar kamu enggak sakit lagi karena dipaksa bicara. Dan aku juga enggak bisa lihat kalau kamu ngomong pakai bahasa isyarat dari jauh. Makanya mendingan kita belajar bikin bahasa kita sendiri, gimana yang lain setuju enggak?"
"Waah bisa juga kayak gitu. Tapi gimana caranya?" tanya Andy sambil menggeser posisi duduknya.
Kenzi menyela antusias dengan usulan aturan bahasa baru mereka:
“Kalau dia pengin sesuatu atau setuju, tepuk tangan satu kali. Kalau dia senang, dua kali. Kalau dia sedih, tiga kali.”
"Boleh banget, gimana Nay? Kamu setuju enggak?" tanya Andy.
Reyzi menoleh ke arah Nayla. Ia tersenyum, lalu, prok, prok—dua tepukan nyaring bergema. Semua tertawa. Malam itu, di studio sewaan yang sempit dan pengap, sebuah bahasa lahir begitu saja, tanpa upacara, hanya dari dua kali tepukan tangan seorang gadis yang selama ini kesulitan bicara.
Malamnya, Nayla melangkah pelan memasuki rumah, pakaiannya masih basah sisa hujan. Begitu pintu terbuka, pandangan dingin langsung menyambutnya.
"Oh, masih ingat rumah?" cetus Rumi dari balik meja makan.
Ani menyilangkan tangan di dada dengan tatapan jijik. "Kenapa baru pulang?"
Revi yang sedang memainkan ponselnya mendengus kencang. "Dasar beban."
Nayla menunduk dalam-dalam, bibirnya bergetar mencoba merangkai kata. "A-aku... l-latihan..."
"Gak usah banyak alasan! Sana tidur!" bentak Revi.
Nayla tak sanggup lagi menahan tangisnya. Ia berlari kecil menuju kamarnya, membanting pintu, lalu menangis dalam diam di balik selimut, melempar apa saja yang ada di sekitar kasurnya.
Keesokan paginya, suasana di rumah Reyzi jauh lebih hidup. Mereka sedang berkumpul saat Zya mendadak berteriak histeris gembira sambil memegangi ponselnya.
"Guys! Guys! Guys! Ada kabar baik nih!" jerit Zya gembira.
"Kenapa sih heboh banget?" sahut Andy sambil membetulkan posisi duduknya.
"Kita dapet job untuk ngisi acara di cafe terkenal itu loh!"
"What? Cafe School Sharing itu? Kamu serius?" Reyzi melotot kaget dari kursi rodanya.
"Kok bisa? Alhamdulillah ya Allah!" seru Vira bersyukur.
“Aku juga kaget, tiba-tiba aja ada yang DM ke akun Instagram band kita! Isinya begini:”
“Halo, apa ini dari Band Suara Senyap? Kami dari Cafe School Sharing ingin mengundang teman-teman untuk tampil di kafe kami nanti malam. Bisa?”
Zya berbinar, langsung mengetik balasan. Tak berapa lama, ponselnya kembali berdenting. Acaranya jam delapan malam itu juga.
"Yeeesss! Akhirnya kita bisa perform di cafe impian kita dari dulu!" Kenzi berteriak kencang. Zya yang terlalu bersemangat sampai menjatuhkan ponselnya sendiri ke lantai. Prak!
"Aduuh, HP-ku!" pekik Zya panik.
Nayla, yang melihat itu, tertawa pelan. Dipungutnya ponsel Zya, diserahkannya kembali sambil tertawa kecil.
Bude Yumi keluar dari dapur mendengar keributan itu. "Eh anak-anak, kenapa kok teriak-teriak? Ada apa?"
"Ini loh Mah, kita diundang untuk ngeband di cafe impian kita," seru Reyzi.
"Waah, selamat anak-anak hebat. Kalian keren. Semoga sukses ya," doa Bude Yumi.
"Aamiin!" sahut mereka bersamaan. Nayla menggerakkan tangan, memberi tanda semangat. Semua tertawa lepas.
Malam harinya, panggung Cafe School Sharing menjadi milik Suara Senyap sepenuhnya. Lampu sorot menyapu wajah mereka satu per satu. Sorak-sorai penonton memenuhi setiap sudut ruangan begitu intro lagu dibawakan. Vira memetik gitar dengan presisi. Jemari Kenzi menari di atas keyboard. Reyzi dan Zya memadukan vokal. Di belakang, dentuman drum Nayla menjadi pondasi yang solid.
Saat lagu usai, gemuruh tepuk tangan membahana. "Halo semua, selamat malam warga Depok!" sapa Reyzi kepada seluruh penonton. "Senang sekali kami bisa mengisi acara di cafe impian kami, dan bisa bertemu dengan kalian secara langsung. Ini adalah suatu kebanggaan yang enggak akan pernah kami lupain. Terima kasih banyak semua!"
Nayla memberi penanda saat mereka hendak turun panggung. "T-tunggu... s-atu-satu ya..."
"Oh ya, yok yok, pegangan Nayla," kata Reyzi.
Nayla menuntun barisan. Didorongnya kursi roda Reyzi sambil memegang pundak Andy, sementara Vira, Kenzi, dan Zya berbaris memegang pundak satu sama lain di belakangnya. Rombongan itu turun panggung pelan-pelan, satu tubuh yang bersambung lewat tangan dan pundak, lebih rapat dari band mana pun yang tampil malam itu.
"Makasih ya, Nay, udah bantuin jalan," kata Zya.
"Iya Nay, maaf ya agak sedikit ngerepotin," tambah Andy.
Nayla menepuk tangan dua kali, gembira.
Kenzi tersenyum haru seraya menggenggam pundak Nayla.
“Makasih ya Nay, kamu udah jadi mata buat kami dan kaki buat mereka.”
Nayla menatap mereka, lalu berbisik pelan. "N-nggak... p-papa. A-aku... s-sayang... k-kalian..."
"Semoga kita bisa terus-terus bareng ya," harap Vira.
Pak Soyu, pemilik kafe, menghampiri. "Hei anak-anak! Ini Om mau ngasih bayaran ngeband kalian tadi. Diterima ya, Om puas banget sama hasil kalian tadi. Karena kalian, banyak pengunjung datang. Semoga sukses selalu ya, maaf kalau enggak seberapa."
"Terima kasih ya Om, semoga kita bisa bekerja sama lagi untuk ke depannya," balas Reyzi sambil menerima amplop, lalu menyerahkannya pada Nayla.
Nayla menerima amplop cokelat tebal itu dengan kedua tangan yang gemetar. Di dekapannya, amplop itu terasa begitu hangat—bukan sekadar karena lembaran rupiah di dalamnya, melainkan karena di sanalah tersimpan peluh, impian, dan rasa saling percaya dari sahabat-sahabat terbaiknya. Nayla menepuk dadanya sendiri, lalu mengangkat tangan dan menepuk dua kali: prok, prok. Bahagia. Malam itu, ia merasa menjadi gadis paling beruntung di dunia karena telah menemukan keluarga yang menerimanya apa adanya.
Namun, di balik sorak kemenangan dan gema tepukan tangan bahagia malam itu, tak seorang pun dari mereka menyadari... bahwa amplop yang didekap erat oleh gadis yang tak mampu bersuara itu kelak akan menjadi pemantik badai fitnah yang paling kejam. Sebuah prahara yang tak hanya meremukkan ikatan persahabatan mereka, tetapi juga menyeret Nayla ke pusaran takdir yang teramat kelam.
[ Bersambung ke Bagian 2 ]