Pendidikan

Kalau Ikan Teri Bisa Berpikir: Cerita Kelas 2A Meneliti Makhluk Kecil yang Sering Dilupakan

Penulis: School Sharing For The Blind
Diterbitkan: 3 November 2026
Diperbarui: 3 November 2026
9 menit baca
28 tayangan

Hai, aku salah satu siswa kelas 2A di School Sharing ini. Dan aku masih ingat bagaimana semuanya bisa sampai terjadi.

Awalnya, kami cuma sedang ada di kelas seperti biasa.

Tapi, Hari itu pelajarannya agak berbeda. Seharusnya ada MTK dan Bahasa indonesia, tetapi pemateri Bahasa indonesia sedang berhalangan. Akhirnya dua pelajaran itu bergabung. Jadilah kami belajar berbicara dari Bahasa indonesia, Dan belajar berfikir dari MTK

Awalnya kami diajak memikirkan diri sendiri. Bertanya tentang diri sendiri, memikirkan sesuatu yang biasanya mungkin tidak pernah ditanyakan. Kami diminta menggali pertanyaan dari hal-hal yang ada di sekitar kami.

Kak Rahma ingin kami terbiasa bertanya. Bukan cuma menerima sesuatu begitu saja, tapi mencoba mencari tahu kenapa sesuatu bisa terjadi, bagaimana sesuatu bekerja, dan apakah yang selama ini kami pikirkan memang benar.

Jadi, kami memang sedang diajak belajar untuk lebih kritis.

Pertanyaan aneh

Sampai kemudian Kak Rahma bertanya sesuatu yang sama sekali tidak ada hubungannya dengan diri kami.

“Kalian kepikiran nggak sih ikan teri itu ada berapa jumlahnya?”

Hening.

Aku rasa bukan cuma aku yang bingung. Teman-teman sekelasku pun sepertinya merasakan hal yang sama

Ikan teri?

Dari sekian banyak hal yang bisa dibicarakan di kelas, kenapa ikan teri?

Belum sempat kebingungan itu hilang, muncul pertanyaan berikutnya.

“Kepikiran nggak, kenapa ikan teri kok dimakan?”

Pertanyaan yang Makin Banyak

Mulai dari sini suasananya berubah.

Ada yang mulai ikut menjawab. Ada yang malah bertanya balik. Pertanyaan yang awalnya terdengar sederhana mulai bercabang ke mana-mana.

“Kak, ikan teri olahraganya gimana?”

“Kak, ikan teri tidurnya gimana?”

“Ikan teri makannya apa?”

“Kalau ikan teri ngomong, suaranya gimana?”

Aku sendiri sempat berpikir, memang ikan teri suaranya gimana?

Pertanyaan itu terdengar konyol ketika diucapkan keras-keras. Tapi setelah dipikir lagi, kami memang tidak tahu jawabannya.

Akhirnya pertanyaan lain ikut bermunculan.

Dan entah bagaimana, Kak Rahma malah semakin semangat.

Sampai akhirnya Kak Rahma bilang sesuatu yang membuat kami semua tahu bahwa pembicaraan ini sudah tidak bisa kembali ke jalur semula.

“Ya sudah. Coba kalian bikin penelitian tentang ikan teri.”

Begitu saja.

Tiba-tiba kami punya penelitian.

Mulai Meneliti Ikan Teri

Kami diminta bertanya kepada para kakak pemateri.

Jadilah pertanyaan-pertanyaan aneh itu dibawa ke jam pelajaran lain.

Para pemateri yang awalnya sudah selesai mengajar materi masing-masing, Mendadak mendapat pertanyaan tentang ikan teri.

Kak Iqbal salah satunya.

Entah bagaimana ceritanya, pertanyaan yang diberikan kepadanya hanya beberapa, tetapi jawabannya bisa panjang sekali. Dua pertanyaan bisa berkembang menjadi obrolan yang rasanya tidak selesai-selesai.

Ada juga Kak Rizky.

Kalau pertanyaan sudah mulai aneh, reaksinya biasanya ikut heboh.

Salah satu pertanyaan akhirnya sampai pada suara ikan.

Aku lupa persisnya siapa yang pertama kali bertanya.

Yang jelas, jawabannya kurang lebih begini.

“Suara ikan itu blubuk-blubuk-blubuk.”

Seketika satu kelas tertawa.

Bukan karena jawabannya luar biasa.

Justru karena kami benar-benar tidak menyangka akan mendengar suara ikan ditirukan di tengah pelajaran.

Kak Tama juga pernah mendapat giliran.

Dari ekspresinya, aku bisa membayangkan ada satu pertanyaan yang mungkin membuatnya berpikir,

Ini anak-anak kenapa sekarang nanya ikan teri?

Tapi pertanyaannya tetap dijawab.

Begitu juga dengan pertanyaan berikutnya.

Dan berikutnya lagi.

Ada yang menjawab berdasarkan pengetahuan yang sudah dimiliki. Ada yang berpikir dulu. Ada juga yang diam-diam mencari informasi sebelum menjawab, meskipun tentu saja tidak ada yang mau mengaku.

Kami terus bertanya.

Kadang jawaban yang baru saja diberikan malah melahirkan pertanyaan lain.

Pertanyaan yang satu dilempar kembali menjadi pertanyaan baru.

Ikan teri.

Makhluk kecil yang selama ini paling sering kami temui dalam bentuk lauk di atas nasi.

Kami tahu rasanya.

Kami juga tahu bentuknya.

Tapi ternyata kami tidak tahu banyak tentang kehidupannya.

Lalu aku jadi penasaran, kalau ikan teri bisa berpikir, kira-kira apa yang mereka rasakan? Apa mungkin seperti ini?

Kalau Ikan Teri Bisa Berpikir

Aku tidak punya nama.

Setidaknya, aku tidak pernah diberi tahu bahwa aku punya nama.

Aku hidup bersama banyak yang lain. Kami berenang bersama, mencari makanan, mengikuti arus, dan bergerak ketika gerombolan berpindah arah.

Di laut, aku tidak pernah tahu apa yang akan datang berikutnya. Kadang ada cahaya, bayangan, arus yang berubah, atau sesuatu yang membuat kami bergerak cepat menjauh.

Hari itu juga begitu.

Kami sedang berenang ketika tiba-tiba ada sesuatu yang membentang di sekitar kami.

Aku mencoba bergerak menjauh.

Tidak bisa.

Aku mencari celah, tetapi gerombolan kami semakin rapat. Aku terus bergerak bersama yang lain, berharap bisa kembali ke laut yang luas.

Tapi kali ini, aku tidak bisa.

Kembali ke Kelas

“Kak, terus ikan terinya kalau ketangkep gimana?”

Pertanyaan itu membuatku kembali mendengar suara kelas.

Aku tidak tahu sejak kapan aku diam.

Di grup kelas, percakapan yang sama masih berlangsung.

Kak Rahma masih di sana.

Teman-temanku juga masih bertanya.

Dan entah kenapa, setelah semua pertanyaan itu, aku jadi memikirkan satu hal.

Ikan teri memang kecil.

Tapi kehidupannya tidak sesingkat yang selama ini kami bayangkan.

Lalu pertanyaan berikutnya muncul.

Dan dari pertanyaan-pertanyaan itu, kami mulai mengumpulkan jawaban, bertanya kepada para pemateri, dan menyusunnya menjadi sebuah penelitian.

Dan ini adalah hasil penelitian kami tentang ikan teri.


ARTIKEL PENELITIAN: EKSISTENSI DAN HAK HIDUP IKAN TERI DALAM KEHIDUPAN MANUSIA

Pengajar: Faizalil Qisti Rahma

Mata Pelajaran: Matematika

Peneliti:

  1. Anisa Rina Febriyanti
  2. Keyla Dahayu Zaffire
  3. Samudra Pratama

Penyusun:

  1. Anisa Rina Febriyanti
  2. Keyla Dahayu Zaffire

Narasumber:

  1. Farah Mujahidah Setianingrum
  2. Nabili Iqbal Setiya Aji
  3. Putra Pratamandika Nuarmawan
  4. Risky Agung Wibawa

Tanggal Penelitian: 10 September 2026

BAB I: PENDAHULUAN

1. Latar Belakang

Gagasan awal penelitian ini bermula secara tidak sengaja di dalam ruang kelas, saat Kak Rahma tanpa sengaja menyebut kata "teri". Momen sederhana tersebut seketika memicu pemikiran reflektif dan pertanyaan mendalam: bagaimana sebenarnya kehidupan ikan teri di alam lepas?

Muncul rasa empati yang kuat terhadap nasib makhluk kecil ini yang selama ini seolah-olah ditakdirkan hanya untuk berakhir di meja makan , digoreng, dicocol sambel, jadi lauk rebutan pas nasi anget-anget. Berawal dari rasa penasaran dan kepedulian terhadap eksistensi mereka, muncullah ide untuk menggali kehidupan ikan teri secara lebih mendalam.

Selama ini, ikan teri (Stolephorus spp.) kerap dipandang sekadar sebagai komoditas pangan berukuran kecil. Namun, jika diteliti melalui lensa yang lebih luas, keberadaan makhluk ini menyimpan kompleksitas yang luar biasa — mulai dari sistem biologis, perilaku adaptif, hingga dinamika interaksinya di ekosistem laut.

Melalui pendekatan etika, keadilan ekologis, dan antropomorfisme (memandang hewan seolah punya sifat atau perasaan seperti manusia), penelitian ini berusaha mendekonstruksi pandangan manusia yang cenderung antroposentris (menjadikan manusia sebagai pusat segalanya).

2. Rumusan Masalah

  1. Bagaimana karakteristik biologis, perilaku adaptif, dan mekanisme bertahan hidup ikan teri (Stolephorus spp.)?
  2. Bagaimana posisi etika, status moral, dan hak hidup ikan teri dalam perspektif hubungan antara manusia dan hewan?
  3. Bagaimana konstruksi sosial, hukum, dan pandangan manusia memengaruhi perlakuan serta pemanfaatan ikan teri?

3. Tujuan Penelitian

  1. Menganalisis aspek biologis dan perilaku alamiah ikan teri.
  2. Mengkaji dimensi etika dan keadilan ekologis terkait hak hidup serta eksistensi ikan teri.
  3. Memberikan pemahaman multidisiplin mengenai batas-batas moral dan empati manusia dalam memperlakukan fauna.

BAB II: HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

A. HASIL JAWABAN KAK Iqbal

Ikan teri berkembang biak dengan bertelur, sekali bertelur bisa ratusan sampai ribuan butir. Hidup di pinggiran lautan, tidak menetap dan berpindah-pindah tergantung kadar air dan suhu. Hidup berkelompok ratusan sampai ribuan ekor, sifatnya rukun dan suka keramaian untuk saling melindungi. Nelayan menangkapnya selalu banyak sekaligus karena lewat secara bergerombol. Jika terjadi bencana ikan teri tidak langsung musnah tapi pindah mencari tempat aman.

B. HASIL JAWABAN KAK TAMA

Allah menciptakan makhluk dengan porsinya, manusia dan jin diberi akal sedangkan hewan diberi nafsu. Jika hewan diberi akal kehidupan akan kacau karena perebutan tempat tinggal dan pekerjaan. Hewan punya akal tapi tidak punya pikiran. Akal untuk jangka pendek, pikiran untuk jangka panjang. Contoh monyet dikasih pisang dan uang pasti milih pisang karena langsung kenyang. Jika hewan bekerja sama seperti manusia rantai makanan akan hancur. Ikan teri jangan dilihat negatif karena kecil. Justru walaupun kecil banyak dicari dan tandanya dia tidak menderita karena tetap makan dan berkembang biak.

C. HASIL JAWABAN KAK FARAH

Ikan teri tidak memimpin pemerintahan karena sifatnya tidak membangkang, kalau membangkang baru akan muncul perselisihan dan peraturan. Interaksinya lewat gerakan yang mengandung bahasa, tapi manusia tidak mempelajarinya. Jarang dijadikan tokoh cerita karena dianggap tidak menarik dan belum ada yang memulai. Tinggal di pinggiran lautan dan tidak menetap. Tidak asin sejak awal saat masih hidup, jadi asin karena setelah ditangkap diawetkan dengan garam.

D. HASIL JAWABAN KAK Risky

Suara ikan teri itu blubuk blubuk blubuk. Cara meregangkan ototnya dengan berenang terus-menerus. Tidurnya saat butuh atau saat terancam. Makanannya lumut dan plankton seperti Coscinodiscus dan Copepoda dengan cara ram feeding yaitu berenang sambil mangap. Bisa mengalami hambatan penglihatan seperti katarak karena parasit Diplostomum, lampu tembak nelayan, baret jaring, dan polusi kimia. Keunikannya terbagi dua klan yaitu Teri Laut yang atletis bergerombol jutaan ekor dan Teri Sungai yang mini transparan di air tawar. Durinya bisa dimakan utuh sumber kalsium, sisik peraknya mengecoh predator, punya radar anti-tabrakan linea lateralis, dan mata 360 derajat. Cara nelayan membunuhnya paling realistis pakai jaring khusus. Hewan memiliki hak yaitu hak untuk disayangi, dihormati, dan dikasih kehidupan yang layak. Hak ikan teri sering terabaikan karena ukurannya kecil, jumlahnya banyak, dan cepat berkembang biak. Pancasila tidak tercermin untuk hewan karena pedoman untuk mensejahterakan hidup manusia. Sudah ada Undang-Undang Perlindungan Hewan, untuk ikan di laut perlindungannya lewat aturan perbatasan.

BAB III: KESIMPULAN

1. Biologi & Perilaku Ikan Teri

  • Bertelur ratusan-ribuan butir, siklus cepat jadi populasi tetap banyak.
  • Hidup di pinggir laut, tidak menetap, pindah tergantung suhu & kadar air.
  • Hidup bergerombol ratusan-jutaan ekor, sifatnya rukun untuk saling melindungi.
  • Makan plankton dengan cara ram feeding, punya radar linea lateralis dan mata 360 derajat.
  • Kalau ada bencana, tidak langsung musnah tapi pindah tempat aman.

2. Etika & Hak Hidup

  • Hewan punya akal jangka pendek (nafsu), manusia punya pikiran jangka panjang.
  • Ikan teri sering haknya terabaikan karena kecil dan banyak, padahal punya hak untuk hidup, disayangi, dan dihormati.
  • Punya peran penting di rantai makanan sebagai pemakan plankton. Kalau punah, laut jadi tidak hidup.

3. Sosial & Hukum

  • Tidak punya pemerintahan karena tidak membangkang, komunikasi pakai gerakan.
  • Tidak asin dari lahir, asin karena diawetkan garam.
  • Ditangkap pakai jaring khusus, tidak bisa pakai pancing.
  • Pancasila fokus untuk manusia, belum untuk hewan. Perlindungan ikan teri lewat aturan laut / perbatasan.
  • Manusia tidak merasa bersalah memakannya karena memang sumber protein, beda dengan makan sesama manusia yang berbahaya.