Artikel

Ketika Keinginan Mandiri Tunanetra Terhalang oleh Keluarga

Penulis: Kak Putri (Pemateri)
3 menit baca

Semua orang punya keinginan untuk mandiri. Misalnya, ingin bisa mengambil keputusan sendiri, melakukan aktivitas sehari-hari sendiri, atau pergi ke tempat yang diinginkan.

Mandiri itu merupakan sebuah proses belajar. Seseorang tidak langsung bisa melakukan semuanya. Kita belajar dari mencoba, salah, lalu mencoba lagi.

Tunanetra juga punya keinginan yang sama. Tapi dalam prosesnya, kadang ada saja keluarga yang terlalu khawatir sehingga tanpa sadar membatasi kesempatan mereka untuk mencoba.

Ketika Kekhawatiran Menjadi Hambatan

Keinginan untuk mandiri tersebut sayangnya terkadang tidak selalu mendapatkan dukungan dari lingkungan terdekat, termasuk keluarga.

Misalnya, ketika mereka ingin melakukan sesuatu seperti memasak, orang tua bisa saja berkata, Ah, nanti aja deh. Mama takut kalau kamu terkena api. Atau contoh lainnya, ketika mereka ingin bepergian sendiri, orang tua melarang karena khawatir terjadi sesuatu pada mereka.

Ketika Tunanetra Ingin Mencoba Sendiri

Di balik larangan dan kekhawatiran tersebut, sebenarnya ada tunanetra yang ingin mencoba dan belajar melakukan sesuatu sendiri.

Misalnya, mereka ingin mencoba memasak. Ketika tidak ada keluarga di rumah atau sedang sendirian, mereka ingin bisa memasak sendiri ketika merasa lapar.

Kalau mereka tidak pernah diberi kesempatan untuk mencoba, bagaimana mereka bisa tahu apakah mereka mampu? Ada kalanya mereka merasa kesal karena setiap kali ingin mencoba sesuatu, justru langsung dibantu, atau malah dilarang. Mereka bisa berpikir, Memangnya aku gak bisa?

Ketika Bantuan Menjadi Ketergantungan

Lalu, apa yang akan terjadi kalau tunanetra terlalu sering dibantu atau dilarang dalam melakukan sesuatu yang sebenarnya masih bisa mereka lakukan sendiri?

Dampaknya, mereka bisa jadi terbiasa bergantung kepada keluarga. Hal yang sebenarnya bisa mereka pelajari dan lakukan sendiri akhirnya menjadi sesuatu yang selalu mereka tunggu bantuannya dari orang lain.

Jadi, memberikan bantuan memang penting, tetapi bantuan juga perlu diberikan sesuai kebutuhan. Jangan sampai niat untuk membantu justru membuat mereka kehilangan kesempatan untuk belajar dan mencoba.

Memberikan Kesempatan untuk Mencoba

Lalu, apa yang sebaiknya dilakukan oleh keluarga? Memberikan kesempatan kepada mereka untuk mencoba.

Keluarga tidak harus langsung melepas mereka begitu saja. Misalnya, ketika mereka ingin memasak, keluarga bisa mendampingi dan mengajarkan cara yang aman, bukan langsung mengatakan bahwa mereka tidak boleh memasak.

Jadi, jangan mengatakan, Jangan, nanti kamu kenapa-kenapa. Tetapi, Boleh aja, kita belajar dulu cara melakukannya agar tidak terkena api.

Dengan cara seperti itu, keluarga tetap bisa menjaga keselamatan mereka sekaligus memberikan kesempatan untuk belajar.

Mandiri Bukan Berarti Tanpa Bantuan

Mandiri bukan berarti tunanetra harus melakukan semuanya sendiri tanpa bantuan. Ada kalanya mereka memang membutuhkan bantuan orang lain, terutama ketika menghadapi sesuatu yang belum pernah mereka lakukan atau membutuhkan perhatian khusus terhadap keselamatan.

Misalnya, keluarga tidak harus langsung mengerjakan semuanya, tetapi bisa mengajarkan caranya, mendampingi saat pertama kali mencoba, lalu perlahan memberikan kesempatan kepada mereka untuk melakukannya sendiri.

Dengan begitu, bantuan dari keluarga bukan hanya membuat pekerjaan menjadi lebih mudah, tetapi juga membantu mereka belajar sampai akhirnya mampu melakukannya sendiri.

Tunanetra juga mempunyai keinginan untuk mandiri. Keluarga boleh saja mempunyai kekhawatiran dan ada keinginan untuk membantu, tapi jangan sampai kekhawatiran itu menghalangi kesempatan tunanetra untuk belajar.

Memberi kesempatan dan kepercayaan bisa membantu tunanetra mengembangkan kemampuan mereka. Karena untuk menjadi mandiri, mereka juga membutuhkan kesempatan untuk mencoba, belajar, dan menemukan kemampuan mereka sendiri.