Artikel

Kenapa Seseorang Bisa Jadi Toksik?

Penulis: School Sharing For The Blind
4 menit baca

Kenapa Seseorang Bisa Jadi Toksik?

Ketika mendengar kata “toksik”, mungkin yang muncul di pikiran kita adalah seseorang yang mudah marah, sering menyalahkan orang lain, suka mengontrol, atau membuat orang-orang di sekitarnya merasa lelah.

```

Namun, pernahkah kita bertanya, mengapa seseorang bisa sampai memiliki perilaku seperti itu?

Sebenarnya, salah satu hal yang dapat memengaruhi perilaku seseorang adalah pengalaman yang membuatnya tertekan. Hal tersebut bisa berasal dari keluarga, lingkungan, hubungan dengan orang lain, atau pengalaman tertentu yang terus membekas dalam dirinya.

Misalnya, seseorang yang sejak kecil sering melihat orang-orang di sekitarnya menyelesaikan masalah dengan kemarahan. Lama-kelamaan, ia dapat belajar bahwa marah adalah cara yang wajar untuk menghadapi sesuatu yang tidak sesuai dengan keinginannya.

```

Ketika Emosi Terus Dipendam

```

Namun, ada juga orang yang justru tumbuh dengan cara yang berbeda. Mereka sebenarnya tidak ingin bersikap kasar kepada orang lain. Ketika menghadapi sesuatu yang membuat tidak nyaman, mereka memilih untuk memendamnya.

“Sudahlah, tidak apa-apa.”

“Aku maklumi saja.”

“Mungkin aku yang terlalu sensitif.”

“Jangan sampai membuat masalah.”

Sekali atau dua kali mungkin tidak terasa sebagai masalah. Tetapi jika dilakukan terus-menerus selama bertahun-tahun, perasaan yang belum benar-benar selesai dapat semakin menumpuk.

Orang tersebut mungkin sebenarnya tahu bahwa dirinya sedang marah. Ia tahu bahwa dirinya kecewa. Ia juga tahu ketika ada sesuatu yang membuatnya tidak nyaman. Namun, setiap kali perasaan itu muncul, ia justru berusaha menolaknya sendiri.

“Aku tidak boleh marah.”

“Aku harus sabar.”

“Aku harus memahami orang lain.”

“Aku tidak boleh membuat orang lain kecewa.”

Lama-kelamaan, ia menjadi terbiasa mengabaikan apa yang sebenarnya ia rasakan.

```

Sulit Mengatakan Tidak

```

Mungkin karena ia takut mengecewakan orang lain. Mungkin karena ia sudah terlalu terbiasa mengalah. Atau mungkin karena sejak dulu ia merasa bahwa mengatakan apa yang sebenarnya ia inginkan hanya akan membuat masalah menjadi lebih besar.

Hal yang sama dapat terjadi ketika seseorang sebenarnya ingin mengatakan “tidak”, tetapi terus memilih untuk mengatakan “iya”.

Sebenarnya ia keberatan.

Sebenarnya ia tidak mau.

Sebenarnya ia sudah lelah.

Tetapi jawabannya tetap, “Iya.”

```

Saat Semuanya Akhirnya Meledak

```

Padahal, perasaan yang kita tekan tidak otomatis hilang.

Jika terus disimpan, tekanan tersebut dapat semakin besar. Sampai suatu hari, sebuah kejadian yang terlihat kecil dari luar dapat membuat semuanya keluar sekaligus.

Dari luar, orang lain mungkin melihatnya sebagai sesuatu yang tiba-tiba.

“Kenapa marahnya sampai seperti itu?”

Padahal, kejadian hari itu menjadi pemicu setelah bertahun-tahun ia menahan banyak hal.

Ia sudah terlalu lama mengatakan “tidak apa-apa”, sampai akhirnya ia sendiri mungkin kesulitan membedakan mana yang benar-benar tidak masalah dan mana yang sebenarnya sudah membuat dirinya terluka.

```

Ketika Kita Tahu Perilaku Kita Salah

```

Yang menarik, orang seperti ini kadang sebenarnya tidak ingin menjadi toksik.

Ia bisa saja menyadari bahwa cara bicaranya salah. Ia mungkin merasa bersalah setelah marah. Bahkan, ia mungkin berjanji kepada dirinya sendiri bahwa ia tidak akan mengulanginya lagi.

Namun, jika setelah itu ia kembali menekan semua perasaannya, pola yang sama dapat terjadi lagi.

  1. Menahan.
  2. Mengiyakan.
  3. Memendam.
  4. Meledak.
  5. Merasa bersalah.
  6. Lalu kembali menahan semuanya.
```

Memahami Tanpa Membenarkan

```

Seseorang mungkin memiliki masa lalu yang berat. Ia mungkin memiliki ketakutan tertentu atau berbagai hal yang belum selesai dalam dirinya. Semua itu dapat membantu kita memahami mengapa ia bereaksi dengan cara tertentu.

Namun, ketika perilakunya sudah menyakiti orang lain, ia tetap perlu belajar bertanggung jawab terhadap perilakunya.

Belajar mengelola emosi juga bukan berarti kita harus menjadi orang yang tidak pernah marah.

Kita boleh marah.

Kita boleh kecewa.

Kita boleh tidak setuju.

Kita juga boleh mengatakan tidak.

```

Belajar Mengungkapkan Apa yang Kita Rasakan

```

Yang penting adalah kita belajar mengenali perasaan tersebut sebelum semuanya menumpuk terlalu jauh.

Daripada terus mengatakan “tidak apa-apa” ketika sebenarnya ada sesuatu yang mengganggu, kita dapat mulai belajar mengatakan, “Aku sebenarnya tidak nyaman dengan ini.”

Daripada terus mengiyakan sesuatu yang sebenarnya tidak kita inginkan, kita dapat belajar mengatakan, “Maaf, kali ini aku tidak bisa.”

Kedengarannya sederhana. Namun, bagi sebagian orang, hal-hal seperti itu bisa sangat sulit dilakukan.

Pada akhirnya, seseorang tidak selalu menjadi toksik karena ingin menyakiti orang lain. Terkadang ada pola yang sudah terbentuk begitu lama sampai orang tersebut sendiri tidak tahu bagaimana cara keluar darinya.

Namun, pola tetap bisa dipelajari, dan pola juga bisa diubah.

```

Memahami Orang Lain, Memahami Diri Sendiri

```

Mungkin kita tidak hanya perlu bertanya, “Kenapa dia menjadi seperti itu?”

Kita juga dapat bertanya, “Apa yang selama ini dia pendam sampai akhirnya dia menjadi seperti itu?”

Dari sana, mungkin kita bukan hanya bisa lebih memahami orang lain, tetapi juga mulai memahami diri kita sendiri.

```