Artikel

Belajar Komputer Bersama Infiartt: Cerita di Balik Layar Ruang Belajar Baru Kami

Penulis: School Sharing For The Blind
4 menit baca
3 tayangan

Bagi sebagian orang, membuka laptop, mengetik tugas, atau sekadar menjelajahi menu pengaturan komputer mungkin terasa seperti aktivitas harian biasa.

Namun, di lingkungan kami, ceritanya sering kali berbeda.

Dalam keseharian mendampingi teman-teman belajar di School Sharing, kami masih sering mendapati teman-teman tunanetra yang belum pernah menyentuh komputer, atau setidaknya belum merasa percaya diri saat berhadapan dengan perangkat tersebut.

Sebagian besar teman-teman memang sudah terbiasa beraktivitas lewat ponsel pintar. Layar sentuh dan pembaca layar di ponsel sangat praktis, tetapi ruang gerak eksplorasi digital jauh lebih leluasa jika dipelajari lewat komputer.

Keresahan sederhana inilah yang terus tersimpan di kepala kami, sampai akhirnya obrolan santai dengan tim Infiartt membuka jalan untuk mewujudkan sebuah ruang belajar baru.

Titik Temu dan Cerita di Balik Layar

Ketika pertama kali duduk bersama tim Infiartt, diskusinya mengalir sangat cair. Kami saling melempar cerita tentang apa yang kami temui di lapangan.

Pihak Infiartt membawa perspektif mereka yang gemar mengoprek perangkat dan teknologi. Sementara kami membagikan keinginan teman-teman School Sharing yang ingin melangkah lebih jauh dari sekadar memakai ponsel. Dari situ, kami menemukan titik temu yang nyata.

Di tengah obrolan, Kak Rexya dari tim Infiartt sempat mengutarakan sebuah perumpamaan yang membekas: kemampuan itu seperti pisau, kalau tidak diasah secara konsisten, ketajamannya akan berkurang.

Tim Infiartt merasa pengetahuan teknologi yang mereka punya akan jauh lebih bermakna jika dibagikan dan dipraktikkan bersama. Kak Rexya juga menyinggung keresahan lain, banyak orang bisa mengoprek hal teknis, tetapi terkadang masih bingung cara menerapkannya dalam situasi nyata.

Membangun Kemandirian dan Nalar Problem Solving

Dari percakapan itu, ide pelatihan ini terbentuk. Kami sepakat membuat program belajar komputer online khusus bagi teman-teman belajar School Sharing.

Tujuannya sederhana: kami ingin teman-teman berani mengeksplorasi komputer secara mandiri dan pelan-pelan membangun kemampuan problem solving saat menemui kendala teknis.

Harapannya, ketika ada tombol yang macet atau aplikasi bermasalah, teman-teman tidak harus selalu bergantung pada orang lain atau minta perangkatnya diremote, melainkan bisa belajar memahami dan mencari solusinya sendiri.

Program perdana ini dirancang berjalan sampai Desember 2026. Setelah rangkaian awal ini selesai, kami dan tim Infiartt akan mengevaluasi bersama apa saja yang perlu disesuaikan untuk kelanjutannya.

Tangkapan layar panggilan video daring yang menampilkan beberapa peserta dan siswa sedang mengikuti sesi pembelajaran jarak jauh menggunakan laptop dan ponsel.

Malam Pembuka: Memetakan Rasa Ingin Tahu

Langkah pertama resmi dimulai pada Minggu malam, 13 September 2026, tepat pukul 19.45 sampai 20.50 WIB.

Pertemuan perdana ini belum masuk ke materi teknis yang rumit. Fokus utama kami malam itu adalah saling mengenal dan memetakan kebutuhan belajar teman-teman.

Kak Rafli dari tim Infiartt hadir sebagai pemateri utama. Sementara dari pihak School Sharing, Kak Rahma dan Kak Fian ikut mendampingi untuk memantau jalannya kegiatan serta komunikasi.

Sesi dibuka dengan perkenalan bersama Kak Rafli. Dilanjutkan oleh Kak Rahma yang memaparkan gambaran umum kegiatan serta materi yang akan dipelajari ke depan.

Kami sengaja membuka ruang seluas-luasnya agar teman-teman belajar bisa langsung menyampaikan apa saja yang selama ini membuat mereka penasaran.

Kak Rafli kemudian menggali pengalaman peserta satu per satu—mulai dari pengalaman menyentuh komputer, hal yang pernah dicoba, hingga alasan mereka terdorong ikut kelas ini.

Tangkapan layar ruang pertemuan virtual yang menampilkan beberapa peserta pelatihan daring, dengan sorotan pada interaksi peserta serta sebuah laptop di atas meja belajar.

Mulai dari Dasar, Tumbuh Bersama Dua Arah

Titik berangkat dan rasa penasaran tiap peserta ternyata sangat beragam.

Ada yang ingin melatih jarinya mengetik sepuluh jari di keyboard fisik, ada yang ingin memahami istilah dasar komputer, ada yang bercita-cita belajar coding, hingga hal praktis seperti login ke akun email sendiri di browser.

Melihat kebutuhan tersebut, Kak Rafli menjelaskan materi akan dibangun bertahap dari pondasinya: pengenalan hardware, software, sistem firmware, hingga logika dasar operasional komputer.

Proses belajar juga disepakati berjalan dua arah. Teman-teman tidak sekadar mendengarkan ceramah, tapi diajak langsung bertanya kapan pun ada konsep yang membingungkan.

Pertemuan malam itu ditutup dengan perasaan lega dan antusias. Kami di School Sharing senang melihat obrolan awal ini bisa berlanjut menjadi ruang belajar yang hidup.

Perjalanan program ini masih berlangsung sampai Desember nanti, dan kami menantikan proses tumbuh bersama teman-teman di setiap sesinya.